Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Review Hamatora The Animation

Review :

Hamatora adalah proyek mixed media, berawal dari manga yang ditulis oleh Yukino Kitajima dengan ilustrasi buatan Yuuki Kodama dan diterbitkan sejak November 2013, adaptasi animenya merupakan sekuel dari cerita manganya dan diproduksi oleh studio NAZ, studio yang turut terlibat dalam produksi Danganronpa The Animation. Animenya disutradarai oleh Seiji Kishi sebagai chief director dan Hiroshi Kimura sebagai director. Seiji Kishi adalah sutradara dari Angel Beats!, Arpeggio of Blue Steel, dan Persona 4: The Animation, sedangkan Hiroshi Kimura sendiri biasanya bertindak sebagai episode director untuk beberapa episode dalam Naruto Shippuuden, Fairy Tail, dan beberapa judul anime lainnya. Hamatora juga akan dikembangkan ke game Nintendo 3DS dengan judul Hamatora: Look at Smoking World, dan dijadwalkan untuk dirilis pada 17 Juli 2014. 


*Story
Ada orang-orang yang dilahirkan dengan kekuatan khusus yang disebut "Minimum", dan mereka disebut Minimum Holder. Nice dan Murasaki adalah Minimum Holder yang berasal dari Facultas Academy, sekolah khusus yang mencari dan mengembangkan kemampuan para Minimum Holder sejak mereka masih kecil. Nice dan Murasaki membentuk duo detektif privat bernama Hamatora yang menyelesaikan kasus-kasus berdasarkan permintaan klien, dan seringkali kasus-kasus yang harus mereka selesaikan juga berhubungan dengan para Minimum Holder. Dari berbagai kasus yang mereka tangani, perlahan terungkap bahwa setiap kasus tersebut saling berhubungan, dan semuanya ternyata hanya merupakan bagian dari skenario besar untuk merubah dunia yang didalangi oleh kenalan lama mereka, atau mungkin juga terhubung dengan orang yang sangat dekat dengan mereka..?

Seperti yang gw tulis di artikel First Look on Winter Season 2014 lalu, awalnya gw merasa cukup menikmati Hamatora yang terasa seperti Code: Breaker yang dibawakan dengan gaya K Project (meskipun semakin ke belakang konsepnya terasa jadi lebih mirip Psycho Pass), dan gw sebenarnya berharap banyak dari Hamatora, tapi seiring berjalannya cerita, gw jadi agak kecewa. Hamatora sebenarnya memiliki potensi yang besar dari cerita yang diangkat dan pesan yang berusaha disampaikannya mengenai keadilan, kesetaraan sosial, nilai, dan sifat-sifat dasar manusia. Bahwa seringkali manusia mencari kekuatan hanya untuk mendapatkan pengakuan di masyarakat dan melarikan diri dari kelemahan mereka, serta betapa manusia seringkali begitu mudah menghakimi kesalahan atau kekurangan sesamanya tanpa menyadari dan mengakui kelemahan mereka sendiri.

Hamatora juga memiliki plot twist menarik yang berhasil membuat penonton terkejut dan semakin penasaran mengenai siapa dalang sebenarnya. Selain itu, seperti yang dilakukan anime Kakumeiki Valvrave, Hamatora juga mengangkat fenomena yang sangat dekat dengan keseharian kita, dimana peran jejaring sosial menajdi sangat besar sebagai media informasi, dan menjadi tempat dimana orang-orang bisa bersembunyi dari realita dan bersikap atau berkata-kata sesukanya tanpa diketahui identitas sebenarnya. 


Sayangnya, potensi cerita dan kelebihan-kelebihan tersebut disampaikan dengan cara yang menurut gw agak terlalu dipaksakan. Kasus-kasus yang harus ditangani oleh Nice, Murasaki, dan teman-temannya sebenarnya cukup kreatif dengan pesan moral yang berusaha disampaikan, tapi terkadang justru terlalu kreatif sampai-sampai cenderung konyol dan gagal menyampaikan pesan sebenarnya (there's a Minimum Holder whose power is a Seduction Minimum and could manipulate every men with the steam from his sweat..like, seriously??-___-"). Unsur komedi yang berusaha dimasukkan oleh Hamatora justru semakin lama cenderung membuat komedinya terasa dipaksakan, adegan-adegan komedi yang paling berhasil mungkin hanya pada awal-awal cerita, serta pada episode terakhir. Selain itu, adegan-adegan sadis pun semakin meningkat pada episode-episode akhir.

*Karakter
Para karakter dalam Hamatora memiliki keunikan tersendiri, dengan latar belakang serta karakter mereka cukup berhasil dieksplor dan dikembangkan sepanjang cerita, hanya saja, ada beberapa karakter yang gw rasa "kurang berfungsi", seperti Master dari Cafe Nowhere yang merupakan basecamp dari Hamatora (he's just standing there behind the bar and grinding coffee beans or wiping the glass all the time), dan ada juga maskot harimau entah dari mana yang sering muncul di berbagai tempat sepanjang cerita, tapi tak berfungsi apapun, sehingga cenderung mengganggu. O ia, hanya trivia, tapi kalau diperhatikan baik-baik, kita bisa menemukan satu karakter figuran pada 2 episode terakhir yang gw rasa merupakan parodi dari karakter Naruto :D.

- Nice (ナイス) : Pemuda easy going yang terlihat cuek dan santai, tapi sebenarnya cermat, penuh perhitungan, dan bila telah memutuskan sesuatu, dia akan berpegang teguh pada keputusan dan prinsipnya. Partner Murasaki dalam duo detektif Hamatora yang seringkali membuat Murasaki kesal dengan kelakuannya yang suka seenaknya dan menerima kasus -kasus yang menurutnya menarik meskipun bayarannya rendah. Nice adalah lulusan terbaik Facultas Academy dan memiliki Minimum yang memampukannya untuk bergerak dengan kecepatan suara setiap kali dia memasang headphonenya. Dihidupkan oleh Ryota Ohsaka, yang juga mengisi suara untuk Eijun Sawamura dalam Ace of Diamond dan Maou Sadao dalam Hataraku Maou-sama!, serta berperan sebagai Ryouta Murakami dalam Brynhildr in the Darkness pada Spring Season 2014 ini.

- Murasaki (ムラサキ) : Partner Nice yang lebih serius dan tenang dibanding Nice, dan mementingkan pemikiran yang rasional mengenai berbagai hal, termasuk dalam hal pemilihan kasus untuk diterima. Peringkat kedua sebagai lulusan terbaik Facultas Academy setelah Nice membuatnya memiliki hubungan friendship-rivalry yang unik dengan Nice, di satu sisi dia selalu mendampingi Nice dan mempercayainya, tapi di sisi lain dia juga berambisi untuk bisa mengalahkan Nice dan diakui olehnya suatu hari. Murasaki memiliki Minimum yang memampukannya untuk memperkeras tubuhnya dan meningkatkan kekuatan fisiknya bila dia melepas kacamatanya. Disuarakan oleh Wataru Hatano, yang juga mengisi suara untuk Gajeel Redfox dalam Fairy Tail series serta Lutz dalam Jormungand series.

- Art (アート) : Pemuda tenang dan lembut ini merupakan teman lama Nice dan Murasaki yang juga lulusan dari Facultas Academy meskipun tidak memiliki kekuatan Minimum, dan akhirnya menjadi detektif di Yokohama Police Department karena sense of justice nya yang tinggi. Sempat mengalami dilema ketika berhadapan dengan kasus Moral, karena Moral terus menekankan perbedaan dirinya dengan Nice dan menawarkan untuk memberikan kekuatan Minimum padanya agar dapat menjadi setara dengan Nice. Art dihidupkan oleh Hiroshi Kamiya, seiyuu yang juga mengisi suara untuk Yato dalam Noragami, Koyomi Araragi dalam Bakemonogatari, dan Takashi Natsume dalam Natsume Yuujinchou.

- Moral (モラル) : Mantan peneliti di Facultas Academy yang terobsesi dengan Nice dan menjadi serial killers yang sadis dengan target para Minimum Holders, kemudian mengambil ekstrak otak mereka untuk menciptakan Minimum Holders buatan dengan memberikan kekuatan Minimum pada orang-orang biasa demi mencapai keadaan yang dia anggap sebagai kesetaraan, dan untuk "menyelamatkan" Nice yang dianggapnya kesepian karena tidak memiliki lawan sepadan. Dia sendiri memiliki kekuatan Minimum yang membuatnya bisa merubah penampilannya menjadi orang lain. Disuarakan dengan sangat baik oleh Yuuki Ono, pengisi suara dari Taiga Kagami dalam Kuroko no Basuke, Kannagi dalam Arata Kangatari, dan Kyuuma Inazuka dalam Kakumeiki Valvrave.

*Seiyuu
Untuk seiyuu performance, Hamatora memiliki nilai tambah karena didukung oleh seiyuu-seiyuu terkenal mulai dari Ryota Ohsaka, Yuuki Ono, Jun Fukuyama, Eri Kitamura, Yuuichi Nakamura, sampai Hiroshi Kamiya, tapi special credit jatuh pada Yuuki Ono atas performancenya sebagai Moral, karena meskipun karakter Moral merupakan salah satu jenis karakter yang rasanya jarang diperankan oleh Yuuki Ono yang biasanya berperan sebagai pemuda atau remaja penuh semangat dan hot-headed seperti Taiga Kagami dalam Kuroko no Basuke dan Kyuuma Inazuka dalam Kakumeiki Valvrave, atau bahkan demon general yang kuat tapi konyol seperti Shirou Ashiya alias Alsiel dalam Hataraku Maou-sama!, dia berhasil membawakan karakter Moral yang sadis dan dingin dengan gaya bicaranya yang manipulatif dengan sangat baik.

*Animasi
Salah satu hal yang sangat gw sayangkan dan sejujurnya menurut gw mengecewakan dari Hamatora adalah animasinya. Sebagai anime yang mengangkat genre action-mystery-super power, studio NAZ menyajikan Hamatora dengan animasi dan artwork yang sangat pas-pas an atau bahkan kurang ("minimum", sesuai dengan tema super power yang diangkat..wkwk..), dan seringkali tidak konsisten. Satu-satunya keunikan dari animasi Hamatora hanyalah pada efek color-pop setiap kali para Minimum Holders menggunakan kekuatan Minimumnya. 


*Music Score
Music score dari Hamatora yang ditangani oleh Makoto Yoshimori yang juga menangani musik untuk Durarara!!, Natsume Yuujinchou series, dan anime movie Hotarubi no Mori e, secara overall cukup baik dalam membangun feel cerita, didukung oleh theme song performance yang keren dari Livetune ft. Yuuki Ozaki untuk opening, dan ending theme yang dinyanyikan oleh dari Wataru Hatano yang tak lain seiyuu dari Murasaki.

OP:
- "FLAT" by Livetune ft. Yuuki Ozaki (from Galileo Galilei) (Full MV version)

ED:
- "Hikari" by Wataru Hatano (Short MV version)

Overall, I can't even really decide whether to love or hate this anime, but I tend to say this anime is STANDARD. Jadi rasanya gak perlu ditanya lagi kenapa anime ini tidak masuk kedalam list Anime Action Terbaik yang Harus Ditonton. Cukup menghibur bagi penggemar genre action-mystery-super power karena plot twist dan cerita yang menarik, tapi bila melihat dari cara penyampaian cerita pada kasus-kasusnya, unsur komedi yang cenderung dipaksakan, serta animasi dan artwork yang kurang, gw lebih merekomendasikan judul-judul sejenis lainnya, seperti Psycho Pass atau Code: Breaker. Dengan ending super gantung pada episode terakhirnya, Hamatora telah dikonfirmasi akan dilanjutkan ke season berikut, dan disebut-sebut akan tayang pada Juli 2014.

(+) plot twist dan cerita menarik.
(-) animasi pas-pas an, penyampaian cerita dan unsur komedi yang cenderung dipaksakan.

Review Acchi Kocchi

Ngelantur Sebentar:

Setelah nonton Phantom Requiem for the Phantom, salah satu Anime Action yang Bercerita tentang Pembunuh Bayaran, tiba-tiba pengen rehat nonton anime yang ceritanya ringan. Anime yang dipenuhi oleh karakter-karakter super moe.

Judulnya adalah あっちこっち; Acchi Kocchi. Kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia, artinya adalah: Di sana-sini. Sebuah anime yang diadaptasi dari manga 4-koma dari judul yang sama, mulai tayang pada season yang sama dengan Hyouka tapi memiliki genre yang jauh berbeda. Kalo yang satu adalah anime tipikal serius tapi santai, maka Acchi Kocchi adalah...imut dan bikin meledak.

Uh-huh, meledak gara-gara cuteness yang luar biasa. (>__<) 


Sinopsis:

Berkisah seputar pasangan cowok-cewek SMA, Otonashi Io dan Miniwa Tsumiki. Nampak jelaaaaasss banget dari gelagat Tsumiki kalo dia suka sama Io, tapi sayangnya dia terlalu tsundere dan gak bisa ngomongin perasaannya secara jujur dan lugas. Io juga, sama sekali gak menyadari apa yang dirasain oleh Tsumiki. Tapiiii...sehari-harinya mereka berdua tetep deket. Banget!

Ditambah kelucuan, keanehan, keisengan, serta kegilaan tiga temennya: Haruno Hime, Katase Mayoi, dan Inui Sakaki; jadilah sebuah anime komedi romantis yang manis anget-anget. Menggemaskan hampir di setiap episodenya! (^o^)

Review:

Cuteness everywhere! Acchi de, kocchi de, kawaiimono da! (>__<) (>__<)!! Itulah satu hal yang ditonjolkan di anime ini, yaitu betapa menggemaskannya hubungan antara Tsumiki dan Io, yang seringkali diganggu dan di-tease oleh temen-temennya yang lain.

Segala macam kelakuan imut dan menggemaskan tidak akan muncul kalo karakter-karakter utamanya gak dirancang demikian. Kekuatan anime ini memang terletak di karakternya. Yep, character-driven.

Pertama, main heroine kita, Miniwa Tsumiki. Cewek berpostur kecil, tergolong keciiiillll untuk orang seusianya. Eits, tapi jangan salah. Meski loli dan merupakan target utama di anime ini untuk diekspos sisi imut-imutnya, tapi kekuatannya LUAR BIASA. Uh-huh, dia adalah tipikal loli perkasa yang tsundere, sangat mudah berubah kepribadiannya jika di depan orang yang disuka. Berhubung ini adalah anime komedi yang mengedepankan unsur cuteness, Tsumiki seringkali digambarkan memiliki atribut seekor kucing (maksud saya nekomimi, alias ada telinga kucing nongol di atas kepala) kalo sedang merespon sesuatu.

Gak cuma itu, kadang Tsumiki digambarkan dengan muka merah, kepala berasep *POOOF*, dan mimisan kalo kadar kegembiraannya udah gak terkontrol sebagai akibat kontak dengan Io. Nah, kalo dere-dere mode nya itu udah aktif, saya bener-bener heboh ngeliat kelakuan Tsumiki. Gemes. BANGET! (>__<) Pengen saya keluarin dari layar terus ngelus-elus Tsumiki sampe berasep... 


Tsundere detected! Berikutnya yaitu pujaan hati Tsumiki, Otonashi Io, seorang bishounen berkacamata yang gentleman (Io-sama, saya harus banyak belajar dari anda!). Punya karisma alamiah untuk menarik cewek-cewek dan kucing-kucing, sekaligus berbakat dalam berbagai macam hal (bahkan bisa maen game bergenre rhythm-matching dengan kepala nyungsep di bantal!). Gak cuma itu, dia juga ahlinya ngegombal dengan kata-kata yang bisa membuat Tsumiki mimisan dan berasep. Kadang nge-tease Tsumiki (secara nggak sadar), tapi juga beberapa kali jadi korban digigit loli yang satu itu. Dan saya menemukan kalo hal itu bener-bener...HNNNNGGGHH (>__<) Salah satu couple di anime dengan chemistry yang tinggi deh!

Satu lagi, saya bisa gemes seneng kalo ngeliat kelakuan dia sama Tsumiki, tapi bisa juga kesel. Cowok yang satu ini dense-nya udah amat sangat keterlaluan! Parahnya lagi, dia masiiiihhhh aja terus deket sama Tsumiki dengan sensornya yang insensitif itu. Entah beneran gak tau atau pura-pura blo'on, mari kita serahkan pada pembuat manganya.

Anime ini juga nggak bakalan rame kalo gak ada ketiga temennya itu.

Haruno Hime. Cewek yang cukup cute, tapi lemot dan rada blo'on. Korban teasing kedua paling sering setelah Tsumiki dan seringkali kena peluru nyasar gombalannya Io. Karakter cewek kedua di anime ini yang bisa mimisan, bahkan lebih sering dari Tsumiki.

Katase Mayoi. Tipikal mad scientist yang rada-rada freak, pake jaket laboratorium, punya banyak alat aneh, dan gak ketauan matanya kayak gimana karena selalu ketutup poni. Sering iseng dan jahil terhadap yang lain, terutama Tsumiki. Sifatnya itu sangat kompatibel sama karakter kita yang berikutnya.

Inui Sakaki, karakter cowok kedua di anime ini. Kompatibel banget sama Mayoi kalo udah urusan isengin orang. Punya kakak cewek (Miiko) yang merupakan seorang pemilik toko roti/kue yang bernama Hatch Potch. Dia, Io, dan Hime kerja di tempat tersebut.

Boleh saya katakan kalo Acchi Kocchi adalah sebuah anime yang murni character-driven, berfokus pada interaksi antar karakternya (yang kadang gemesin), khususnya tarik ulur antara Tsumiki-Io. Satu hal yang bikin puas, kontak di antara mereka nggak pernah sedikitpun membosankan buat saya. Bahkan saya yang seringkali mementingkan plot dan development pun takluk terhadap betapa gemesin dan angetnya anime ini sampe tamat! Walaupun tema utamanya tetep cuteness, tapi terus diolah secara kreatif per episode dengan memanfaatkan karakter-karakternya dengan sangat baik. Selalu D'AWWWWW~ (>__<)

Sekarang, artwork. Kalo anda suka desain karakter yang lucu dan sesekali dibikin chibi/deformed, maka anda tidak akan menemui masalah. Yep, termasuk saya. (≧∀≦) Masalah pewarnaannya, buat saya udah cocok untuk anime dengan tipe seperti ini. Bright and colorful.

Ada lagi hal kecil dalam masalah visual yang saya suka meski beberapa orang mungkin mengabaikannya. Apa itu? Yap, frame transisi antar scene. Simpel, unik, dan artistik. Contohnya yang kayak gini: 


Musik...meski gak ada satupun baik opening maupun ending theme yang menguasai playlist saya, tapi harus saya akui kalo dua-duanya itu cukup enak di telinga. Diciptakan seimut dan selucu mungkin!

Sempurna? Tentu tidak.

Pertama, beberapa kalimat jokes (punchline) yang garing buat saya. Entah saya yang dodol atau emang gak lucu beneran, yang jelas saya nggak ketawa di beberapa dialog meski saya tahu kalo maksudnya adalah untuk ngelucu. Slapstick-nya jauh lebih konyol dan bikin ngakak.

Kedua, gak ada konklusi. Well, saya bisa memaklumi, karena anime ini adalah adaptasi dari manga 4-koma/4-panel serta fokusnya adalah lawakan dan interaksi karakter yang menggemaskan. Tapi...saya jadi merasa butuh season 2 supaya tau gimana proses Io sama Tsumiki jadian, huh! (>__<)

Ketiga, bisa dikatakan kalo anime ini gak punya plot. Saya nggak mendapatinya sebagai kekurangan, karena saya udah ngerti kalo anime ini adalah character-driven, bukan plot-driven (iya lah, namanya juga komedi romantis slice of life). Tapi saya cuma mau kasih tau, buat anda yang kurang suka sesuatu tanpa alur cerita, mungkin anime ini bukan untuk anda. 


--------------------

Rating:

8.7/10 (B+ rank) buat anime ini untuk cuteness, heartwarming aura, permainan antar karakter, dan juga untuk Tsumiki x Io nya. Amat sangat cocok sebagai pelepas stress (setelah sekolah, kuliah, kerja). Dijamin langsung ilang deh segala macem depresi! d(≧∀≦)

Sangat direkomendasikan untuk para penonton yang suka segala sesuatu yang imut dan anget, dibungkus dalam paket komedi romantis slice of life yang slow-paced.

Review Kyoukai no Kanata

Ngelantur Sebentar:

Fuyukai desu! Eh... maaf... (anyway, fuyukai desu itu artinya "how unpleasant" alias "nyebelin!" lah kalo kasarnya dalam bahasa Indonesia)

境界の彼方, Kyoukai no Kanata. Jika diterjemahkan, maka artinya adalah "Di Luar/Di Balik Batas". Beyond the Boundary. Judul udah sangat sesuai karena merupakan elemen sentral dalam cerita.

Nah, setelah perjuangan panjang sekitar 3 bulan berlalu, akhirnya 12 episode selesai ditayangkan. Berhubung segala alasan udah saya beritahu di first impression, maka nggak perlu banyak pengantar lagi. Langsung ke review! 


Sinopsis:

Kanbara Akihito, seorang cowok SMA kelas 2, mendadak melihat pemandangan aneh saat pulang sekolah. Seorang cewek kelihatan mau terjun dari atap sekolah!

Tanpa basa-basi, diapun segera menuju TKP. Dengan teknik menggombal tingkat tinggi, maka cewek itu, Kuriyama Mirai, bukannya melompat terjun... malah berbalik nyamperin Akihito! Dan... JLEB! Akihito ditusuk seketika dengan pedang yang diciptakan Mirai dari tetesan darahnya. Dan tentu saja Akihito nggak mati saat itu juga atau anime ini nggak akan bisa menjadi 12 episode!

Sejak hari itu, dimulailah aksi duet makhluk setengah-orang-setengah-youmu yang nggak bisa mati (Akihito) dan spirit hunter berkemampuan langka (Mirai) dalam membasmi para youmu berbahaya.

NB: UTW fansub translation, youmu => dreamshade

Senpai, fuyukai desu.

Review:

FUYUKAI DESU! #eh

Maaf, keterusan XD~

Seperti yang sudah saya katakan di first impression, saya menuliskan rasa rindu saya akan action scene ala KyoAni sejak Full Metal Panic! Second Raid beberapa tahun lalu. Dan...

SENPAAAAII...!!! FUYUKAI DEEEEESSSSU...!!!!!
...saya tidak kecewa dengan action-nya!


Yes, ini poin kuat Kyoukai no Kanata yang pertama.

Dari episode 1 hingga 12, saya disuguhkan permainan visual yang indah ketika karakter-karakternya beradu kekuatan. Efek-efeknya dashyat dan detail gerakannya bener-bener WUAAAAHHHH. Sewaktu Mirai melompat ke sana ke mari, tetesan darahnya yang berubah jadi pedang, pola permukaan barrier yang dibentuk anggota klan Nase, Akihito waktu berserk, tebasan-tebasan indah dari Izumi nee-sama, dan kegilaan yang terjadi di akhir... semuanya bikin saya mau TE. RI. AK. Jebret abis deh pokoknya! Berbekal pengalaman dan teknologi animasi yang makin maju, membuat animasi pertarungan seperti yang ada di sini mungkin hanyalah hal sepele buat KyoAni. Makanya buanyaak banget orang yang bisa kalo Kyoukai no Kanata ini adalah salah satu Anime Action Moe Terbaik di Tahun 2013.

Se.N.Pa.I. Fu.Yu.Ka.I. Desu.
Apalagi?

K.O.N.S.E.P. Poin kedua, beberapa konsep dalam cerita.

Ada 2 yang saya suka di sini.

Pertama, yang saya dapati unik adalah trait MMORPG (nggak tau kepanjangannya? makanya main game! :P) yang digunakan untuk sistem pembasmian youmu. Berhasil bunuh satu, core nya jadi item drop, kemudian bisa dijual. Ada tingkat rarity-nya juga pula. Makin langka, makin mahal core-nya. Dan ini jadi plot device yang bagus! Di sini, perkara core suatu youmu mampu membangun beberapa hal menjadi lebih solid.

Kedua, *lagi-lagi* seperti yang sudah saya katakan di first impression, yaitu kekuatannya Akihito dan Mirai. Si penulis (ingat, anime ini hasil adaptasi light novel) berhasil menciptakan kompatibilitas yang cukup baik untuk kekuatan mereka berdua. Buat saya, jenis kekuatan keduanya memang tidak terlalu "wah" (saya pernah bayangin tipe-tipe kekuatan yg lebih gila, misal: manipulasi definisi atau kausalitas --- berpotensi menghancurkan alam semesta dengan sekali klik), tetapi cukup berhasil diolah dalam 12 episode untuk menceritakan keterkaitan erat antar 2 jenis kekuatan yang berbeda. 


Senpai, I'm serious. Fuyukai. Desu.
Ketiga!

Ini adalah hal yang amat sangat tidak saya duga. Satu poin penting dalam Kyoukai no Kanata yang berhasil membuat idealisme saya mengenai sebuah anime yang baik bersalto 720 derajat.

Apakah itu?

Filler episode! Baca keras-keras: FILLER EPISODE!

Selama ini saya selalu merendahkan episode-episode pengisi nggak jelas yang nggak punya keterkaitan penting dengan plot utama. Tapi semuanya berubah ketika EPISODE 6 MENYERANG! Betul, episode 6 Kyoukai no Kanata adalah salah satu episode filler TERBAIK yang pernah saya tonton! 

Bukan masalah plot, bukan masalah animasi, tetapi emosi yang bergolak di dalam episode tersebut. Tetap memiliki alur yang sangat sederhana (namanya juga filler) , dengan plot device yang juga simpel.

Di awal episode, saya disuguhkan komedi-komedi (dengan timing yang amat sangat tepat) yang nggak bisa dibantah lagi kekonyolannya. Menuju tengah-tengah, suasananya agak berubah, mulai serius. Yang saya maksud serius bukan ada acara gebuk-gebukan youmu tingkat sinting, tapi karena...

Minnaaa...!! Ichi! Ni! San! FUYUKAI DESU!
...yes, dat idol scene.

Entah apa yang ada di pikiran para staff KyoAni (khususnya director sama series composition), tapi memasukkan scene-scene flashback ketika nyanyi adalah amat sangat G.L.O.R.I.O.U.S. Semua karakternya seperti mengerahkan segenap jiwa dan raga HANYA demi membasmi sebuah youmu yang... silakan ditonton sendiri XD~ Jika disimpulkan, apa yang membuat episode ini begitu berkesan adalah penggambaran emosi ketika semuanya berusaha TERLALU niat untuk hal yang TERLALU simpel. Overkill desu!

But seriously, saya tepuk tangan setelah seluruh episode 6 berakhir! Kejadian langka ini hanya pernah saya lakukan beberapa kali, khusus pada scene-scene tertentu di sedikit anime (kadang plus nangis-nangis). Sebut saja ARIA series (banyak), Clannad (banyak), Madoka Magica (ep 11), Chuu2Koi (beberapa di awal, beberapa di akhir), Sakurasou (ep 23)...

Apa artinya? Episode tersebut berhasil mendesak masuk ke jajaran episode terbaik sepanjang saya jadi otaku! Hebatnya lagi, statusnya cuma sebuah filler!

Lanjut ke musiknya!

Opening theme, check. Udah jadi bahan nyanyian saya sehari-hari setelah Birth-nya KamiNai. Kodoku ga hoho wo... nurasu, nurasu kedo~

Tapi nggak saya sangka-sangka, lama-lama saya juga suka ending theme-nya! Daisy yang dibawakan STEREO DIVE FOUNDATION berhasil menduduki playlist saya. Perlu anda semua ketahui, saya jarang (banget) menyukai lagu-lagu yang dibawakan vokalis cowok. Artinya, ending theme anime ini adalah pengecualian. Satu rekor lagi dari Kyoukai no Kanata!

Senpai... fuyukai... desu...

Karena ini bukan anime sempurna, sekarang saya ke kekurangan.

Pertama, karakter. Fine, Mirai dengan tagline "fuyukai desu"nya sukses membuat saya selingkuh dari Takanashi Rikka kepincut dan jatuh hati. Postur petite non-loli ditambah gestur moe serta kacamata frame tebal bikin saya nyaris pingsan. Apalagi Mirai diceritakan secara ngenes dan susah melulu. Saya pribadi kasian banget, serius. (T__T)

TAPI sisanya!

Sorry to say, saya kurang terkesan. Akihito terlalu pervert untuk jadi karakter utama (saya lebih seneng sejenis Oreki Houtarou-nya Hyouka kalo protagonis cowok). Hiro'omi meski ganteng tapi pendeklarasian kecenderungan incest-nya terlalu diumbar. Mitsuki tidak terlalu menonjol perannya untuk 'menggebrak' plot padahal sangat berpotensi untuk itu. Sakura punya development seperti 'membalik telapak tangan' (kegampangan + kecepetan berubahnya!). Ai... useless di setengah akhir. Segalanya cuma ping-pong antara Izumi nee-sama dan Fujima Miroku a.k.a. si representatif Spirit Hunter Association sebagai dua mastermind.

Kedua, plothole. Ibarat jalanan sering mandi hujan tapi nggak pernah diurus dan ditambal. Lubangnya BANYAK, entah tentang masa lalu karakter-karakternya atau alasan-alasan penggerak plot, sehingga nggak mungkin saya kasih tau satu-satu. Seandainya lebih detail, sebenernya ini bisa jadi anime kelas atas karena straight plot-nya sudah menjadi rangka yang baik.

Nah, khusus yang ini saya nggak bisa menyalahkan staff KyoAni sepenuhnya. Mungkin di LN-nya bisa jadi demikian (saya belum cek LN-nya sampe tuntas). Tapi... menurut saya, penulis LN-nya juga nggak bisa disalahkan, karena bisa jadi dia memang nggak berniat untuk menulis cerita super detail. Mungkin (mungkin!) dia menulis lebih ke arah penceritaan relationship, greget emosi, dan/atau keindahan berbahasa (kayak... *UHUK* *Sword Art Online* *UHUK*). 


Ketiga, ending. Ressurection mendadak tanpa ada reasoning dan tanda-tanda khusus! Hal tersebut seolah-olah dilakukan untuk 'memaksa' cerita menjadi happy ending (seperti kata monolog Akihito di ending tersebut) tanpa memperhatikan kelogisan plot. Keberadaan scene tersebut seperti seseorang yang menjungkirbalikkan sebuah meja yang dipenuhi makanan-makanan lezat di atasnya. Seluruh cerita menjadi mubazir! Saya yakin 1000% alasannya ada dalam LN, namun tidak cukup untuk diceritakan dalam anime.

Keempat... ya episode 6 itu. Secara individual content, episode tersebut memang merupakan salah satu episode anime terbaik yang pernah saya tonton. Sayangnyaaa... itu seperti pedang bermata dua. Jika saya melihat secara keseluruhan (dari 1-12), episode filler tersebut malah merusak komposisi plot. Dibilang berfungsi memperjelas plot ya nggak... dibilang memperdalam development juga nggak. Bayangkan jika episode tersebut dihilangkan. Akan ada ruang 1 episode lagi untuk 'menambal' segala plothole yang ada, sehingga sebagian besar (atau malah semua) pertanyaan yang ada bener-bener terjawab. Dan skor dari saya untuk Kyoukai no Kanata mungkin akan jauh lebih tinggi!

Senpai... fuyukai... janai desu....

---------------

7.7/10 (B rank) untuk Kyoukai no Kanata karena plot yang tidak bercabang ke mana-mana, animasinya yang aduhai, konsep-konsep unik, opening + ending theme yang asik, kedahsyatan episode filler-nya, dan... karena fuyukai desu.

Sangat direkomendasikan bagi para penikmat anime action yang mementingkan artwork, plus bumbu unsur-unsur moe ala Kyoto Animation.

NB: Kalau di suatu tempat anda menemukan saya memberi nilai lebih tinggi, itu dikarenakan saya masih terbuai dengan visual episode 12-nya dan belum mempertimbangkan matang-matang keseluruhan anime dari awal hingga akhir. Hanya di review inilah saya sudah melakukan penilaian lebih dalam.

***

Review Isshuukan Friends

Yap masih sama seperti kemarin-kemarin, kali ini saya mau review salah satu dari Kumpulan Anime Romance. Judulnya adalah Isshuukan Friends atau kalo dalem bahasa inggris One Week Friends atau kalo dalem bahasa indonesia jadi Temen Satu Minggu.

Sinopsis:

"Aku mau jadi temen kamu!"

Satu kalimat, hanya satu kalimat.

Membutuhkan segenap keberanian bagi Hase Yuuki untuk mengungkapkan.

Bagi satu pribadi, si gadis penyendiri, Fujimiya Kaori.

Sayang, respon Kaori tak sesuai angan dan harapan.

Penolakan.

"Aku... nggak bisa. Ingatanku dalam seminggu bakal hilang minggu depan..."

Tuturnya semerbak di telinga, namun sesak di dada.

Menyerah? Bukan Hase Yuuki namanya jika mudah pasrah.

Dengan keinginan baja, Yuuki terus berusaha.

Minggu demi minggu, tanpa jemu, hanya untuk satu.

Menjadi teman bagi Kaori, agar tak lagi sendiri. 


Review:

Gimana? Udah maknyep nyess duar jebret? (apaan dah XD) Sebenernya saya sengaja nulis sinopsis seperti itu, karena memang demikian gelombang yang ditransmisikan anime ini. Anget, bikin saya nyaris selalu tersenyum, tapi... ada sesuatu yang lain.

Ini dia hal "yang lain" tersebut. Poin nendang pertama! Emotional flow!

Sujud sembah buat salah satu mangaka favorit saya, Hazuki Matcha (padahal baru bikin dua manga... wkakakakak XD), yang sukses membuat percampuran yang baik antara warmth and uneasiness! Suasana yang digambarkan memang terasa hangat, tapi plot device yang ada tampil membawa kegalauan.

Anda suka sama seseorang, tapi merasa kalo orang itu nggak bisa jadi cowok/cewek Anda. Maka Anda memilih menjadikannya teman, namun terus deket sama orang itu lebih dari sekedar teman, dan karena itulah Anda jadi tahu segala rahasia tentang orang itu. Ironisnya, kedekatan tersebut nggak mungkin terwujud kalo Anda membangun hubungan romantis dengan orang itu, dikarenakan rahasia yang disimpannya. Damn... ini sukses bikin otak sama hati saya berantem. Dan jarang-jarang saya menikmati keduanya berselisih, biasanya harus milih salah satu. GAAAAAHHHH!!! Mau teriak, mau marah, tapi saya juga bahagia total!! GIMANA INI ~!@#$%^&*()_+ 


Poin nendang kedua! Artwork!

I. DAMN. LOVE. THE. ARTWORK!

Setelah Usagi Drop, saya belum pernah lagi menonton anime dengan pewarnaan watercolour style seperti Isshuukan Friends. Ini adalah faktor pertama dari mana aura hangat itu berasal. Penggunaan warna yang nggak kelewat kontras seperti ini memang bisa memberikan suasana tersebut hanya dalam beberapa detik setelah masuk melalui organ optik Anda.

Apalagi?

Jelas desain karakternya! Dan ini adalah faktor utama yang bikin saya cinta mati sama artwork pada manga karya Hazuki Matcha. Sejak baca manga pertamanya, Kimi to Kami Hikouki to, dalam sekejap saya langsung doyan. Begitu tau dia ngeluarin manga keduanya alias Isshuukan Friends ini, wah... udah deh, langsung diembattt...! Hebatnya, aura dari artwork di anime nggak berbeda terlampau jauh dengan di manga. Sukses bertahan! d(≧∀≦)

FYI, saya juga seneng sama desain yang cute non-mainstream moe begini. Kalo Anda nggak demen, itu murni masalah selera. 

Poin nendang ketiga! Sound!

Meski belum pernah mengisi suara karakter utama sebelumnya, tetapi bisa saya katakan Amamiya Sora (seiyuu Fujimiya Kaori) sudah berhasil 100%. Murni cute tanpa kesan dipaksain, clear tone, dengan soft personality itu... duh, dahsyat luar biasa! Satu lagi, warna suaranya begitu pas disandingkan dengan seiyuu veteran Nakahara Mai (pengisi suara ibunya Kaori). Bener-bener terasa kayak ibu dan anak! Dan Anda pasti akan kaget kalo tau role karakter utama berikutnya dari Amamiya Sora adalah seorang penumpah darah.

Bukan cuma itu, kumpulan soundtrack-nya juga menggigit! Opening theme-nya, Niji no Kakera yang dinyanyikan Kon Natsumi sukses menjadi lagu yang wajib saya putar setiap hari. Amamiya Sora kebagian untuk menyanyikan ending theme-nya, Kanade, yang terdengar merdu-merdu nyep nyess (halah). FYI, Kanade sebenernya adalah arrange ulang dari lagu berjudul sama yang dirilis tahun 2004 oleh Sukima Switch.

Masih ada lagi! Apakah itu?

Yup, BGM! Saya suka banget sama beberapa BGMnya ketika menjadi latar suara adegan-adegan tertentu. Sewaktu adegan yang dramatis, yang fluffy, yang... pokoknya banyak deh! Tapi yang paling nonjok tetep Niji no Kakera versi instrumental yang diselipkan di episode paling MAKHNNNGGHH di sepanjang anime.

Poin nendang keempat! No ecchi!

Setelah Mikakunin de Shinkoukei di Winter 2013, musim Spring 2014 juga sukses membuktikan bahwa romance dalam anime tidak selamanya harus mesum. Mengingat anime ini adalah romance berkedok friendzone yang disengaja beraura unyu-galau dan author-nya adalah seorang perempuan (yup, Hazuki Matcha is a woman!), maka warna ecchi dalam cerita demi hasrat kejantanan semata adalah haram hukumnya. Bahkan kalian (kalo cowok) bisa juga mencoba menawarkan anime ini bagi temen cewek non-otaku yang suka cerita drama agak slow (buat modus juga silakan XD). Aman! 


Poin nendang kelima dan yang terakhir! Development!

Ini nendang luar biasa. Kalo untuk Fujimiya Kaori sama Hase Yuuki, jelas banget punya development yang naik perlahan dan jebret pada waktunya. Dari cewek amnesia mingguan yang tertutup dan nggak punya siapa-siapa, Kaori menjadi jauh lebih terbuka karena kegigihan Yuuki. Segala event yang terjadi di anime juga nyaris nggak ada yang nggak berguna untuk membangun development karakter. Dan hal itu nggak diceritakan secara grusak-grusuk! Buat saya yang bisa menerima alur lambat (berhubung cocok sama genre), development yang disuguhkan sangat berkelas.

Cuma mereka? NO!

Kiryuu Shougo dan Yamagishi Saki pun punya jatah untuk diceritakan! Ini yang saya seneng, karena side character pun diberi ruang berkembang. Memang keduanya diceritakan dalam kadar yang nggak sebanyak dua karakter utama. Walaupun demikian, hubungan keduanya tetap mengarah pada sesuatu yang mencengkram kuat dan HNNNNGGGHHHHH (≧∀≦)

Sayang seribu sayang, masih ada yang kurang.

Pertama, konflik utama. Kecepatannya berbanding terbalik dengan development! Jika segala sesuatunya dibangun dalam 9 episode, maka konflik utama PLUS penyelesaian terjadi hanya dalam 3 episode. Yang saya maksud "konflik utama" adalah dimana kedua karakter utama menghadapi "ancaman eksternal" dengan development terbalik (segala yang udah dibangun hancur seketika gitu). Idealnya, konflik utama ini diceritakan dalam 4-5 episode. IMO, saya menganggap yang ada di awal-awal itu sebagai konflik sampingan karena terjadi secara internal dan development keduanya bukannya melangkah mundur, tetapi maju.

Kedua, resolusi. Dan ini fatal! 12 episode terbuang sia-sia untuk resolusi yang memutar plot kembali ke episode 1. Memang betul yang namanya resolusi harus menyelesaikan permasalahan awal, tetapi bukan berarti tidak ada kemajuan sama sekali, kan? Well... sesuai judul sih, tapi... ya gitu deh, Saya nggak mau ngomong banyak-banyak di sini, ntar nggak seru lagi... XP~ 


Rating:

9.0/10 (A rank) buat Isshuukan Friends. (pake titik!) untuk development dan emotional flow-nya, artwork, dan juga segala sesuatu yang berhubungan dengan suara. Dan juga karena tergolong bersih dari yang anu-anu!

Direkomendasikan untuk para pecinta anime beralur lambat, tanpa urat, dan serba hangat.

Review Sukitte Ii na yo

Oke seperti biasa ane mau bahas tentang anime romance lagi. Kali ini adalah anime romance musim Fall 2012, satu musim dengan anime romance lainnya seperti Chuunibyou Demo Koi ga Shitai dan juga Sakurasou no Pet na Kanojo.

Oiya anime romance kali ini memiliki drama yang cukup kental, jadi kalo kalian bukan tipikal pecinta drama, mending gak usah nonton anime ini haha. Serius deh dramanya bisa dibilang agak lebay. 


Sinopsis:
Anime ini bercerita tentang Tachibana Mei yang sudah menjomblo selama 16 tahun. Boro-boro punya pacar, punya temen aja kaga. Tapi yang dilakukannya ini bukanlah tanpa alasan. Ini semua terjadi setelah suatu insiden di masa kecilnya, Tachibana Mei memutuskan bahwa dia tidak membutuhkan teman-teman yang hanya akan berkhianat demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun semuanya berubah ketika negara api menyerang bertemu dengan Kurosawa Yamato, cowok gahoel yang paling populer di sekolahnya, lewat suatu pertemuan yang unik. Lewat pertemuannya dengan Yamato, perlahan-lahan Mei pun sadar kalo di dunia ini masih ada orang yang bisa dia percaya. Maka Mei lalu mulai belajar untuk membuka diri kembali, meskipun, karena sudah terlalu lama tertutup, dia tidak pernah berhenti curiga bahwa suatu saat Yamato juga akan meninggalkannya.

- Cerita :
Ntah sudah berapa banyak anime diluar sana yang mengambil tema percintaan antara cowok yang populer dengan cewek penyendiri ataupun sebaliknya. Begitupun dengan Sukitte Ii na Yo.


Oke sekarang saatnya bahas aspek yang membedakan anime ini dengan anime romance lainnya. Jika anime romance pada umumnya itu mempunyai konsep cerita tentang "bagaimana menjalin suatu hubungan", maka ada sedikit perbedaan dengan Sukitte Ii na Yo, karena anime ini membahas tentang "bagaimana menjaga suatu hubungan". Oleh karena itu, dari 13 episode yang ada, Sukitte Ii na Yo punya cukup banyak konflik yang mereka coba sajikan ke penonton. Hanya saja, konflik-konflik tersebut cenderung dangkal dan mudah untuk diprediksi. Tidak ada sesuatu yang "wah" yang membuat anime ini mudah dikenang.

Namun, dibalik konflik tersebut, mereka mencoba menyajikan hal yang menarik untuk ditonton. Yaitu tentang "seperti apa sih sebenarnya teman itu" . Dan ini maknanya cukup dalam, karena menyangkut masalah yang sering kali terjadi di kehidupan sehari-hari.

Dikhianati, dipermalukan, dimanfaatkan -- ada banyak alasan bagi seseorang untuk menutup diri dan tidak percaya dengan orang lain di sekitarnya. Meski sekilas terlihat hanya seperti kisah romantis biasa, anime ini sebenarnya punya cerita yang lebih dalam, yaitu tentang orang-orang yang tersakiti, seperti Mei yang dijadikan kambing hitam atas kematian kelinci di sekolahnya, Asami yang diolok-olok karena bentuk tubuhnya, atau Aiko yang diduakan oleh kekasihnya. Anime ini bercerita tentang bagaimana mereka belajar menumbuhkan rasa percaya kepada diri mereka sendiri dan juga kepada orang lain. Memang masih terdapat tanda-tanda umum dari suatu kisah romantis biasa, seperti tokoh-tokoh baru yang mendadak muncul untuk menimbulkan masalah yang dibuat-buat, tetapi seolah mengerti bahwa hal ini hanya akan berdampak buruk, anime ini segera membatasi peran tokoh-tokoh tersebut, sehingga ceritanya pun lebih cenderung terasa colourful daripada terlalu dipanjang-panjangkan. Dibandingkan dengan anime genre romance yang lain, Anime ini telah mulai beranjak dewasa.

- Audio Visual :
Well sebenernya ini bukan masalah besar. Hanya saja ane kurang suka dengan desain karakter dari anime ini. Mengambil setting tempat di sekolah, seharusnya desain karakternya pun menyesuaikan dengan latar tempat yang mereka ambil.

Coba kalian lihat Yamato, Kai dan Aiko. Apakah mereka bertiga terlihat seperti anak sekolahan? Apakah di sekolah tersebut tidak ada rajia rambut? Apakah di sekolah tersebut memperbolehkan siswi perempuannya untuk memakai anting yang berlebihan?

Dan jujur saja, kalo ane pribadi gak tau kenapa cukup terganggu dengan hal ini. Jika mengambil cerita yang bergenre slice of life, setidaknya mereka harus mencoba untuk membuat series ini terlihat natural, terlihat realistis. Okelah ane ngerti ini anime shoujo, dan mereka mencoba fans perempuan biar kelepekan, sedemikan rupa membuat karakter cowoknya terlihat ganteng. Tapi itu lebay banget dan gak realistis!


Disamping hal itu tidak ada yang terlalu istimewa dengan visual anime ini, tetapi dia tetap berhasil mendukung ceritanya dengan baik, terutama dari segi emosional. Tatapan dingin dari belakang bahu, atau bangku kesepian di tengah koridor -- sinematografi bisu semacam ini mampu membantu penonton untuk memahami keterasingan yang diderita para karakternya. Lalu bagian voice-acting juga pantas mendapat pujian, sebab dia berhasil mewakili setiap karakter dengan benar sehingga masing-masing terasa unik bahkan dalam nada suara dan cara bicara mereka.

- Karakter:
Bagaimana cara menyelamatkan seorang gadis dari stalker? Menurut Yamato, cium dia di depan umum. Bagaimana cara menghibur seorang gadis yang baru saja diputuskan? Menurut Yamato, tidur dengannya agar dia tidak merasa tidak berharga. Meskipun kemudian coba dijelaskan sebagai kenaifan dalam memahami hati perempuan, prinsip 'kebaikan hati' Yamato tersebut lebih seperti 'kelicikan' yang memanfaatkan situasi, sehingga rasanya benar-benar konyol ketika anime ini justru ingin menggambarkannya sebagai sesuatu yang romantis. 

Begitupun dengan Tachibana Mei. Digambarkan sebagai cewek yang bersikukuh untuk tidak mencari teman, karena dia punya prinsip bahwa kalo punya teman itu akan menyakitinya. Dari sini kita bisa liat bahwa akan ada development yang menarik pada diri Mei. Sukitte Ii na Yo berhasil memperlihatkan development yang terjadi pada Mei.

Namun disisi lain, sifat terlalu pemaaf dari Mei ini membuat konflik yang ada menjadi terlihat sangat sepele. Okelah bisa dimengerti kalo Mei seperti itu karena dia tidak mau "kehilangan hubungan pertamanya" . Namun disisi lain gak tau kenapa cara dia memaafkan si brengsek Yamato itu aneh banget.


Namun, ini hanyalah sebagian kecil, sementara di bagian lain anime ini berhasil menjelaskan para karakternya dengan sangat baik. Masing-masing diberikan latar belakang dan cukup alasan sehingga keresahan mereka begitu mudah dimengerti. Dan walaupun tema bullying mungkin akan terasa terlalu sering dan berulang-ulang, hal tersebut justru hanya menjadikan kecenderungan mereka untuk berkumpul dan saling mencari dukungan semakin masuk akal.

- Overall Score:
Cinta adalah tentang kepercayaan, maka bagi Tachibana Mei yang sudah lama tidak percaya dengan orang lain, mencintai seseorang merupakan sebuah jalan panjang yang berat dan penuh rintangan. Itulah sebabnya mengapa anime ini unggul dibandingkan dengan anime bergenre romance lainnya. Daripada sekadar bicara seputar hubungan asmara antara pemuda dan gadis, anime ini bercerita tentang evolusi karakter. Dan dengan setiap bagiannya berusaha sebaik mungkin untuk membantu anda memahami evolusi tersebut, anime ini telah melengkapi semua syarat sebagai salah satu tontonan yang terbaik. Nilai 9 dari 10 (Recommended!)

Review Angel Beats!

Kalo ditanya tentang anime yang paling sedih, pasti jawabannya gak jauh-jauh dari Clannad, Anohana, Angel Beats dan juga anime yang belom lama ini muncul : Shigatsu wa Kimi no Uso & Plastic Memories. Nah kebetulan disini ane pengen mereview salah satu dari anime tersebut, yaitu Angel Beats!

Angel Beats adalah anime hasil kolaborasi dari Jun Maeda dan P.A.Works, yang rilis pada musim spring 2010 silam, di musim yang sama dengan rilisnya Kaichou wa Maid-sama, Yojouhan Shinwa Taikei, K-ON Season 2, Arakawa Under the Bridge, dan anime-anime keren lainnya.

Information :
Episodes: 13
Studio: P.A. Works
Genres: Action, Comedy, Drama, School, Supernatural
Aired: Apr 3, 2010 to Jun 26, 2010

Angel Beats bercerita tentang Otonasi Yuzuru yang secara tiba-tiba terbangun di dunia afterlife dalam keadaan lupa ingatan (Amnesia). Disana dia bertemu dengan Nakamura Yuri, atau yang biasa dipanggil Yurippe, yang sedang memegang senapan dan bersiap untuk menembak seorang gadis berambut silver yang bernama Tachibana Kanade. Gak pake lama, Yuri pun langsung menghasut Yuzuru agar dia mau bergabung dengan Shinda Sekai Sensen (Afterlife Battlefront) untuk melawan gadis tersebut, yang dianggapnya sebagai Tenshi (Malaikat). Tidak percaya dengan perkataan Yuri, Yuzuru pun mencoba untuk berbicara dengan gadis cantik tersebut. Hal yang tak diinginkan pun terjadi, gadis tersebut malah menusuk Yuzuru dengan Hand Sonic miliknya.

Singkat cerita, akhirnya Yuzuru pun memutuskan untuk bergabung dengan Shinda Sekai Sensen sambil mencari tahu tentang dunia afterlife yang penuh dengan misteri tersebut.
Review :
Story :
Mengingat kesuksesan Jun Maeda dalam karya sebelumnya (Air, Kanon & Clannad Series), tentu Angel Beats termasuk salah satu anime yang highly anticipated pada musim spring 2010 silam. Layaknya Haibane Renmei, setting tempat yang diambil adalah dunia afterlife sebagai tempat pensucian (Purgatory).

Angel Beats menjelaskan dunia afterlife (versi mereka) melalui operasi-operasi koplak yang dilakukan oleh grup SSS. Dari fakta bahwa "kita tidak bisa mati di dunia afterlife", muncul comedy-comedy slapstick yang tak jarang membuat kira tertawa terbahak-bahak. Dan di akhir episode, Angel Beats mencoba menjelaskan misteri dibalik dunia afterlife sedikit demi sedikit, lewat monolog yang dilakukan oleh Yurippe maupun Yuzuru. Storytelling yang cukup bagus untuk membuat kita jatuh cinta dengan anime ini.


Sayangnya, kualitas cerita dari anime ini menurun belom lama setelah ane menyukainya. Angel Beats terus menerus mengulang pola storytelling yang sama disaat kita sudah bisa melihat kearah mana arah jalan ceritanya mengalir. Setiap episode demi episode mereka menyajikan episode filler yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan main story dari anime ini. Okelah ane akui comedy-nya kocak parah, namun tetap saja cara penyajian cerita seperti ini sangat tidak efektif (Mengingat Angel Beats hanya punya 13 episode).

Dampaknya mulai terasa saat mereka perpindahan genre dari fase comedy ke fase drama. Ada beberapa hal yang terasa dipaksakan dan banyak sekali karakter yang tidak dijelaskan dengan baik (Efek dari terlalu banyak karakter). Singkatnya, kalo menurut ane pribadi, gaya penceritaan yang digunakan Angel Beats tidak mampu dalam memaksimalkan semua potensi dari cerita yang dibangunnya sendiri.

Beruntungnya, drama di episode-episode akhir yang ada di Angel Beats cukup menyentuh dan mempunyai makna yang sangat dalam, yang menjadi nilai plus untuk anime ini. Ditambah lagi dengan BGM dan juga insert song-nya yang berjudul Ichiban no Takaramono yang memperkuat "unsur sedih" di anime ini. Meskipun hanya punya sedikit episode yang tersisa, impact dari drama yang disampaikan cukup besar dan membekas di hati ane (Dan mungkin beberapa dari kalian yang baca review ini).


Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari anime ini, salah satunya adalah bagaimana cara kita mensyukuri hidup yang telah dianugerahkan kepada kita. Betapa pun kerasnya hidup kita (beratnya masalah yang menimpa kita), kita harus selalu mensyukurinya. Toh kita cuma punya 1x kesempatan hidup kan?

Karakter :
Banyak sekali karakter yang ada di Angel Beats. Di satu sisi, karakter-karakter tersebut sangat membantu dalam memperkaya unsur comedy didalamnya. Dan di sisi lain, karakter tersebut tentu saja menjadi bencana untuk anime ini. Tidak mungkin kan mereka bisa menggambarkan semua karakter tersebut dengan detail didalam 13 episode yang disediakan?

Well, seenggaknya Angel Beats berhasil menggambarkan karakter-karakter utama mereka dengan sangat baik (Otonashi Yuzuru, Nakamura Yuri dan Tachibana Kanade). Ane pribadi cukup menikmati development yang terjadi pada ketiga karakter tersebut.

Oiya hampir aja ketinggalan, kisah romance yang terjadi diantara karakternya pun dikemas dengan rapi. Terutama kisah romance antara Yuzuru dengan Kanade.

Animasi :
Hmm mungkin Artwork Angel Beats masuk ke Top 5 jika dibandingkan dengan anime-anime rilisan tahun 2010 lainnya. Artworknya cukup bagus dan konsisten dari awal sampe akhir. Terutama detail animasi saat concert dan action scene yang bener-bener *wah* banget.

Satu-satunya yang disayangkan dari segi animasi adalah saat scene-scene "dihapuskan" atau "dihilangkan" nya para karakter, sama sekali tidak diberi efek apapun untuk menambah unsur dramatisnya. Dampaknya, scene yang seharusnya bisa berkesan tersebut menjadi sedikit terasa hampa.

Musik :
Lagu-lagu yang dijadikan OST di anime ini adalah sebagai berikut : 
Opening Theme :
- My Soul, Your Beats! by Lia
- My Soul, Your Beats! by LiSA sebagai OP khusus eps. 4

Ending Theme :
- Brave Song" by Aoi Tada
- Ichiban no Takaramono by LiSA sebagai ED khusus eps. 10
- Ichiban no Takaramono by Karuta sebagai ED khusus eps. 13

Kalo menurut ane pribadi, unsur yang paling berperan penting dalam membangun atmosfer sedih di Angel Beats adalah OST-nya, mulai dari Lagu Ending, Insert Song sampai ke BGM-nya. Nih bagi yang mau denger Lagu OST Anime terbaik di Angel Beats :


Begitupun saat comedy scene, gak tau kenapa ane suka banget dengan cara mereka menggunakan BGM sedih disaat memperlihatkan kekonyolan para karakternya. Angel Beats! punya beberapa adegan ngaco yang berhasil mengocok perut karena menggunakan efek slow motion dan dramatisasi dengan dukungan BGM sedih yang rasanya pas banget (Bagi yang sudah nonton, tentu masih ingat dong dengan comedy scene yang ada di episode 5? *Lel).
Overall : (77/100)
Angel Beats adalah salah satu anime yang direkomendasikan untuk semua umur, terutama bagi kalian pecinta anime Romance-Drama.

(+) Komedinya kocak parah
(+) Kombinasi Romance dan Dramanya pas banget
(+) Banyak pesan moral yang bisa dipetik dari anime ini
(+) Artwork dan OST-nya patut untuk diacungi jempol

(-) Storytelling-nya kacau
Yang paling parah dari storytelling Angel Beats adalah cara mereka memperlihatkan tragic backstory dari para karakter percis setelah sepanjang episode mereka bermain-main dengan komedinya. Tentu saja impact-nya gak bakalan kerasa -__-"
(-) Banyak karakter yang tidak digambarkan dengan baik

Sebagai penutup, ini dia salah satu quote paling romantis yang ada di anime ini (diambil dari percakapannya Kanade - Yuzuru) :

Truly and deeply, thank you for giving my life to me - Tachibana Kanade